Loading...
JUMAT AGUNG:  SALIB DI BAHU BAPAK

JUMAT AGUNG:  SALIB DI BAHU BAPAK

  • 18 Apr 2025
  • Renungan

 

Setiap Jumat pagi, suara sepeda motor tua terdengar dari kejauhan. Bunyi knalpotnya sudah dikenal warga kampung Nangga, sebuah desa kecil di balik perbukitan. Itu pasti Bapak Lukas. Ia akan lewat sambil membawa keranjang besar berisi sayur dan pisang dari kebun untuk dijual ke pasar kecil di kota kecamatan.

Tapi Jumat itu berbeda. Motor tua itu tak terdengar. Orang-orang mulai bertanya-tanya. Di rumahnya, anak bungsunya, Riko, termenung di beranda.

“Mama, kenapa Bapak belum pulang dari kebun?” tanyanya lirih.

Ibunya hanya menggeleng pelan. “Mungkin ban bocor, Nak. Atau motor mogok lagi.”

Namun, saat matahari sudah tinggi dan kabut pagi sudah menguap, barulah kabar itu datang. Seorang petani menemukan Bapak Lukas tergelincir di jalan licin dan jatuh ke jurang kecil di pinggir kebun. Kaki kanannya patah. Tak bisa lagi naik motor. Tak bisa lagi angkat keranjang penuh hasil panen. Tak bisa lagi, mungkin untuk waktu yang lama, menjadi tulang punggung keluarga.

Hari-hari setelah kejadian itu berjalan lambat. Riko, yang baru kelas dua SMP, mulai bangun lebih pagi. Ia belajar menyalakan api, menggoreng singkong, bahkan mencuci pakaian bapaknya yang berbau minyak dan tanah.

Ia juga mulai ikut ke kebun. Awalnya hanya ikut-ikut saja, memetik daun singkong atau membersihkan rumput. Tapi lama-lama, dialah yang memikul hasil panen ke rumah. Peluhnya mengalir, pundaknya mulai lecet, dan tangannya melepuh. Tapi ia tidak mengeluh.

Suatu sore, saat ia duduk di samping ranjang bapaknya, pria itu menatapnya dalam-dalam.

“Maafkan Bapak ya, Ko. Bapak belum bisa bantu apa-apa sekarang.”

Riko menggenggam tangan bapaknya. “Tidak apa-apa, Pak. Sekarang giliran aku yang bantu Bapak.”

Di dinding kamar mereka tergantung salib kecil dari kayu yang tidak pakai Corpus. Waktu itu romo bilang Corpus di salib itu adalah diri kita sendiri. Riko memandangnya lama. Dia satukan dengan corpus Tuhan Yesus.

“Pak,” katanya pelan, “di sekolah tadi Romo cerita tentang Yesus yang pikul salib. Kata Romo, salib itu kadang tidak besar. Kadang salib itu cuma hal-hal kecil… yang kita lakukan dengan cinta.”

Bapak Lukas tersenyum tipis. Matanya berkaca.

Hari-hari berlalu. Sabtu, Minggu, Senin. Tidak ada yang berubah secara ajaib. Hidup tetap keras. Tapi Riko mulai menemukan kedamaian dalam rutinitas barunya. Ia mulai menyapa tetangga lebih ramah, ikut bantu-bantu di gereja, bahkan belajar menyanyi untuk misa Jumat Agung.

Satu hari, Pastor Dani, yang biasa memimpin misa di kapel desa, datang berkunjung. Ia melihat luka di pundak Riko yang mulai menghitam.

“Kamu capek, Ko?” tanyanya.

Riko tersenyum kecil. “Iya, Romo. Tapi capek yang bikin aku senang.”

“Kenapa?”

“Soalnya sekarang aku tahu rasanya pikul salib. Tapi bukan karena dipaksa. Karena aku sayang sama Bapak dan Mama.”

Romo Dani mengangguk. “Kalau begitu, kamu sudah ikut Yesus. Dia juga pikul salib bukan karena wajib, tapi karena cinta.”

Riko hanya tersenyum malu. Tapi dalam hatinya, ia merasa seperti Yesus kecil di kampung Nangga.

Pada Jumat Agung itu, kapel kecil di desa penuh. Lilin-lilin menyala lembut, salib ditutupi kain ungu, dan umat berlutut dalam keheningan. Saat bagian kisah sengsara dibacakan, suara Riko terdengar tenang saat membaca peran Yesus. Ia melafalkan kata-kata terakhir Yesus di salib dengan perlahan:
“Sudah selesai.”

Di akhir ibadat, umat berjalan satu per satu ke depan altar untuk mencium salib. Riko datang paling akhir. Ia menatap salib itu lama, lalu mencium kaki kayunya dengan air mata yang tak ia tahan lagi. Bukan karena sedih. Tapi karena mengerti. Mengerti betapa dalam kasih yang memanggul salib.

Malamnya, di rumah, ia duduk di samping bapaknya yang sedang tertidur. Angin malam berhembus lembut. Dari jendela kecil, bulan tampak menggantung penuh di langit.

Salib kecil di dinding tampak bersinar diterpa cahaya.

“Terima kasih, Yesus,” bisik Riko. “Karena Kau ajarkan aku untuk mencintai, bukan hanya saat senang… tapi juga saat lelah. Untuk memanggul salib dengan hati yang rela.”

Ia lalu berbaring di lantai, meringkuk dengan jaket usang bapaknya, dan tertidur dalam damai.

Refleksi
Salib bukanlah beban semata. Salib adalah jalan menuju kasih yang dalam. Dalam keluarga, di pekerjaan, dalam pelayanan, bahkan dalam luka dan kegagalan—ada salib yang bisa kita pikul. Dan jika kita memikulnya dengan cinta, seperti Riko, kita telah ikut serta dalam karya penebusan Kristus.

“Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23)


Cijantung, 18 April 2025

Hallo, ada yang bisa dibantu?